Implementasi Segitiga Restitusi pada PDBK Tunarungu
Restitusi merupakan
proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah,
dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan
bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996). Ketika
peserta didik menemui masalah atau berbuat masalah, maka guru dapat membimbing
untuk membuat evaluasi dari dalam diri tentang cara untuk memperbaiki kesalahan
sehingga mereka dapat kembali kepada komunitasnya dengan pribadi yang lebih
kuat. Restitusi dianggap mampu memecahkan masalah peserta didik karena memiliki
ciri – ciri sebagai berikut:
1. Restitusi
bukan untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan
2. Restitusi
memperbaiki hubungan
3. Restitusi
adalah tawaran, bukan paksaan
4. Restitusi
menuntun untuk melihat ke dalam diri
5. Restitusi
mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan
6. Restitusi
diri adalah cara yang paling baik
7. Restitusi
fokus pada karakter bukan tindakan
8. Restitusi
fokus pada solusi
9. Restitusi
mengembalikan murid yang berbuat salah pada kelompoknya
Penerapan restitusi pada
peserta didik dilakukan dengan 3 tahap
yang dikenal dengan nama segitiga restitusi.
Diane Gossen dalam bukunya
Restitution; Restructuring School Discipline, 2001 telah merancang sebuah
tahapan untuk memudahkan para guru dan orangtua dalam melakukan proses restitusi,
bernama segitiga restitusi/restitution
triangle.
Tahapan segitiga restitusi meliputi:
Menstabilkan Identitas/Stabilize the
identity, Validasi Tindakan yang Salah/ Validate
the Misbehavior dan Menanyakan Keyakinan/Seek the Belief. Untuk lebih jelasnya mari kita bahas ketiga
tahapannya.
Tahap 1, Menstabilkan Identitas/Stabilize the identity
Pada tahap ini peserta didik di ajak untuk tenang dan kembali ke suasana hati dimana proses belajar dan penyelesaian masalah bisa kita lakukan. Guru dapat mengucapkan kata-kata sebagai berikut:
- Berbuat salah itu tidak apa-apa.
- Tidak ada manusia yang sempurna
- Saya juga pernah melakukan kesalahan seperti itu
- Kita bisa menyelesaikan ini.
- Bapak/Ibu tidak tertarik mencari siapa yang salah, tapi Bapak/Ibu ingin mencari solusi dari permasalahan ini.
- Kamu berhak merasa begitu.
- Apakah kamu sedang menjadi teman yang baik buat dirimu sendiri?
Tahap 2, Validasi Tindakan yang Salah/ Validate the Misbehavior
Perbuatan yang salah pada peserta didik seringkali dilakukan untuk memenuhi beberapa kebutuhan pada manusia. Disinilah guru harus mampu memahami maksud perbuatan peserta didik tersebut. Guru dapat mengucapkan :
- Padahal kamu bisa melakukan yang lebih buruk dari ini ya?
- Kamu pasti punya alasan mengapa melakukan hal itu?
- Kamu patut bangga pada dirimu sendiri karena kamu telah melindungi sesuatu yang penting buatmu.
- Kamu boleh mempertahankan sikap itu, tapi kamu harus menambahkan sikap yang baru.
Tahap 3, Menanyakan Keyakinan/Seek the Belief
Pada tahap ke 3, peserta didik siap untuk
dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan menjadi orang yang dia
inginkan. Guru dapat mengucapkan kata – kata berikut:
1. Apa
yang kita percaya sebagai kelas atau keluarga?
2. Apa
nilai-nilai umum yang kita telah sepakati?
3. Apa
bayangan kita tentang kelas yang ideal?
4. Kamu
mau jadi orang yang seperti apa?
Penerapan segitiga
restitusi dalam pemecahan masalah lebih ditekankan pada cara membangun komunikasi
yang efektif antara guru dan peserta didik yang memiliki masalah. Komunikasi
dapat terbangun dengan baik jika maksud komunikasi tersampaikan dengan baik.
Kesulitan berkomunikasi pada peserta didik berkebutuhan khusus tunarungu,
menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan segitiga restitusi.
Peserta
didik tunarungu mengalami gangguan pendengaran sehingga menyebabkan anak
tunarungu memiliki sedikit kosakata. Keterbatasan bahasa baik lisan maupun
tulisan menyebabkan anak tuna rungu salah menafsirkan sesuatu. Sehingga bisa
menjadi tekanan bagi emosinya. Tekanan ini dapat menyebabkan anak tuna rungu
menampilkan sikap menutup diri, bertindak agresif dan tidak percaya diri.
Kaitannya dengan langkah pemecahan masalah pada peserta didik dengan model
segitiga restitusi, tentu akan sangat membingungkan peserta didik. Ungkapan
kalimat – kalimat panjang tentu semakin membingungkan peserta didik. Saya
mencoba menerapkan segitiga pada anak didik saya di kelas XI SMALB B tunarungu.
Kasusnya, seorang siswa atas nama Anom Angga Diputra selalu menggunakan pakaian
seragam yang berukuran sangat kecil dan ketat. Teman teman sekelas sudah
berusaha mengingatkan bahwa pakaian seragam itu sudah tidak cocok digunakan,
tetapi Anom tetap tidak peduli. Akhirnya sesuai waktu yang sudah disepakati,
kami berusaha mencari jalan keluar dengan menerapkan langkah-langkah segitiga
restitusi. Anom angga terlihat sangat bingung dengan pilihan kalimat-kalimat
yang sesuai dengan langkah segitiga restitusi. Langkah yang saya lakukan untuk menyelesaikan
masalah dari anom angga adalah memilih kalimat yang sependek mungkin tanpa
mengubah artinya. Waktu penyelesaian masalahpun saya tambah menjadi 2 hari agar
emosi anak tetap terjangga, mengingat salah satu karakteristik siswa tunarungu
adalah gampang tersinggung. Dengan modifikasi langkah segitiga restitusi yang
saya lakukan, akhirnya saya bisa mengajak Anom Angga memecahkan masalahnya dan
mengembalikan dia dalam keyakinan kelas yang sudah disepakati sebelumnya.
Segitiga restitusi sangat cocok diterapkan untuk memecahkan masalah pada peserta didik berkebutuhan khusus, tetapi perlu dilakukan modifikasi pada saat penyampaikannya. Hal ini mengingat anak tunarungu memiliki kosakata yang terbatas. Jangan sampai kalimat yang ditanyakan malah akan membuat bingung anak didik. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pemilihan waktu yang tepat karena anak tunarungu cenderung emosional. Peran pemantau seperti orangtua siswa dan rekan sejawat juga perlu dilibatkan untuk memperoleh jalan keluar yang baik, sehingga peserta didik dapat kembali ke komunitasnya dengan pribadi yang lebih kuat.
0 Response to "Implementasi Segitiga Restitusi pada PDBK Tunarungu"
Posting Komentar